Showing posts with label Aplikasi. Show all posts
Showing posts with label Aplikasi. Show all posts

7 Aplikasi yang Bikin Foto Outdoor Lebih Estetik

7 Aplikasi yang Bikin Foto Outdoor Lebih Estetik

Ketika berjalan-jalan ke tempat baru, biasanya kita akan mengabadikan momen dengan berfoto. Tidak hanya diri sendiri, ada juga pemandangan menakjubkan seperti gunung, salju, bahkan aurora.

Namun, ada saja kendala kamera bawaan seperti kurang cerah, ingin menambah filter atau juga memotong sebagian foto (cropping). Tenang saja, kamu bisa melakukan semua itu dengan sejumlah aplikasi di smartphone.

Berikut tujuh aplikasi edit foto yang layak kamu unduh dan install di smartphone.

1. Priime

Aplikasi ini menyediakan 100 style foto yang terinspirasi dari fotografer kelas dunia. Style ini bisa kamu gunakan untuk kebutuhan editing foto outdoor.

Selain itu, ada juga tool modern untuk proses pengeditan dengan resolusi tinggi. Aplikasi Priime ini tersedia secara gratis di iOS.

2. VSCO

VSCO adalah salah satu aplikasi mengedit foto yang paling populer. Aplikasi ini menawarkan preset mobile yang mengesankan dan kontrol kamera canggih. Menariknya, hasil editan di VSCO bisa kamu tampilkan di profil agar dilihat banyak orang.

3. Afterlight

Dengan 74 filter yang dapat disesuaikan, 78 tekstur alami, 15 alat penyesuaian, dan 128 pilihan bingkai, rasanya aplikasi ini lebih dari cukup untuk mengedit foto outdoor.

Selain itu, aplikasi ini diklaim sebagai pasangan sempurna dengan Instagram. Aplikasi ini dijual seharga Rp 15 ribu di iOS dan Android.

4. Adobe Photoshop Lightroom

Aplikasi ini ditujukan bagi kamu editor foto tingkat lanjut. Adobe Photoshop Lightroom memungkinkan kamu membuat dan berbagi foto dengan kualitas seperti profesional.

Fitur terbaik dari aplikasi ini adalah prosesnya yang sangat sederhana, dan memungkinkan kamu untuk menyalin editan favorit mu ke foto lain.

5. Polarr

Aplikasi ini cocok untuk kamu yang mengutamakan detail foto. Polarr menawarkan tampilan antarmuka yang bisa disesuaikan.

Fiturnya ada masker warna gradual, dukungan 3D Touch, penyesuaian lokal, dan lain-lain. Aplikasi ini tersedia secara gratis di iOS dan Android.

6. Snapseed

Serupa dengan Polarr, aplikasi buatan Google ini cocok bagi kamu yang mengutamakan detail spesifik. Beberapa fiturnya antara lain memutar (rotate), memotong (crop), mengaburkan foto (blur), menyesuaikan kontras, dan lain-lain.

7. Enlight

Jika kamu suka menggabungkan nilai seni dengan foto outdoor, Enlight adalah aplikasi yang tepat. Beberapa fitur kreatif seperti filter sketsa, efek pelukis, dan transformasi seni jalanan, bisa kamu gunakan.


3 Risiko Pakai Aplikasi Gratisan di Android

3 Risiko Pakai Aplikasi Gratisan di Android

3 Risiko Pakai Aplikasi Gratisan di Android

Peneliti menemukan masalah utamanya, yakni aplikasi gratisan didanai oleh iklan. Hal ini tampak sah-sah saja, namun bisa menciptakan efek buruk. Tim peneliti juga menemukan ada beberapa kekurangan dan risiko saat pengguna memakai aplikasi gratisan. Apa saja?

1. Aplikasi gratisan boros


Dengan adanya iklan, aplikasi gratisan menggunakan 33 persen baterai smartphone. Tak hanya itu, masa pakai baterai smartphone juga berkurang saat seseorang memakai aplikasi gratisan.

Mereka yang memakai banyak aplikasi gratis akan mampu melihat seberapa besar perbandingan penggunaan baterai kala belum memakainya, dan setelah memakai aplikasi gratis.


2. Perlambat kinerja sistem smartphone


Memang benar kalau smartphone premium menggunakan prosesor yang lebih kuat, namun dengan frekuensi pemakaian aplikasi gratis yang tinggi dalam aktivitas sehari-hari, kinerja sistemnya bisa lebih lambat ketimbang pemakaian normal.

Hasil penelitian mengungkap, didukung oleh iklan, aplikasi gratis menggunakan 56 persen dari kinerja pemrosesan. Rinciannya adalah 22 persen dari penggunaan memori dan 48 persen merupakan komputasi yang terakumulasi pada prosesor.

3. Habiskan lebih banyak mobile data


Seberapa sering iklan muncul saat kamu sedang membuka atau memainkan aplikasi gratis? Tentunya hal ini juga menguras lebih banyak kuota dibandingkan saat pop-up iklan tak muncul.

Berdasarkan hasil temuan para peneliti, jumlah paket data yang didapatkan dari aplikasi gratis 100 persen lebih banyak dari aplikasi berbayar dengan kenaikan mencapai 79 persen.

Pada negara yang rata-rata pengguna ponsel memiliki paket 1GB, tentunya paket data begitu cepat habis, bisa jadi alasannya karena penggunaan aplikasi gratisan. Menurut operator AT&T, rata-rata konsumsi data aplikasi gratis adalah 1,7 sen tiap kali pengguna membukanya.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada pengembang yang menciptakan aplikasi gratis, pengguna smartphone seharusnya patut mempertimbangkan versi aplikasi berbayar yang bebas iklan. Dengan begitu, kuota data, baterai, dan kinerja sistem pun bisa dihemat.

5 Aplikasi Ini Perlu Dihapus dari Android

5 Aplikasi Ini Perlu Dihapus dari Android 

5 Aplikasi Ini Perlu Dihapus dari Android

Kehadiran aplikasi smartphone tentu saja bisa membantu penggunanya dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Namun tak bisa dimungkiri bahwa makin banyak aplikasi di ponsel, makin cepat juga baterai terkuras.

Oleh karena itu, ada sejumlah aplikasi yang tampaknya perlu dihapus oleh pengguna smartphone Android, apa saja? Berikut adalah 5 aplikasi yang patut di-uninstall dari Android sebagaimana Tekno Liputan6.com kutip dari Android Pit, Minggu (23/4/2017).

1. Aplikasi yang Diklaim Mampu Menghemat RAM


5 Aplikasi Ini Perlu Dihapus dari Android


Perlu kamu ketahui, aplikasi yang berjalan di background smartphone pastinya memakan kapasitas RAM dan baterai smartphone. Banyak yang menyarankan untuk menghemat kapasitas RAM, pengguna perlu memasang aplikasi yang bisa menghemat RAM.

Namun pada prinsipnya, aplikasi yang menghemat RAM ini justru menutup proses kerja aplikasi-aplikasi lain. Hal ini dianggap bisa memperparah masalah, sebab dengan proses penutupan secara paksa, berbagai aplikasi yang berjalan di background justru harus memulai kembali prosesnya.

Ilustrasi aplikasi untuk membersihkan RAM (Sumber:Pricebook.co.id)
Padahal, untuk membuka kembali aplikasi, dibutuhkan ruang di RAM dan juga baterai. Maka dari itu, aplikasi pihak ketiga yang mengklaim dirinya sebagai penghemat RAM sesungguhnya tidak diperlukan dan lebih baik dihapus dari Android.

2. Aplikasi Pembersih Smartphone

Aplikasi pembersih smartphone seperti Clean Master dan lainnya banyak dipakai pengguna untuk meningkatkan kinerja Android mereka. Memang benar, setelah kamu menghapus sebuah aplikasi, kadang masih menyisahkan data dalam cache. Namun kamu tak perlu mengunduh aplikasi pembersih smartphone.

5 Aplikasi Ini Perlu Dihapus dari Android
Membersihkan smartphone 
Cara membereskan data yang tertinggal itu cukup mudah, kamu hanya perlu membuka menu "Setting" kemudian pilih menu "Storage" dan pilih "Clear cache" dan OK untuk membersihkan data yang tak penting.

Selain itu, kamu juga bisa menghapus cache masing-masing aplikasi dengan cara masuk ke "Setting", lalu "Apps" dan kemudian "Downloaded" dan tap salah satu aplikasi, kemudian di halaman selanjutnya, kamu tinggal memilih "Clear Cache".

 3. Aplikasi Antivirus

Sebenarnya, smartphone Android dan Play Store di dalamnya bisa melakukan tugas-tugas aplikasi antivirus. Misalnya untuk perlindungan dari kehilangan, kamu tinggal menggunakan Android Device Manager tanpa perlu aplikasi tambahan.

Sementara, kalau aplikasi mengandung malware, Google akan mengeceknya secara otomatis di Play Store. Oleh karena itu, aplikasi antivirus sebenarnya hanya berguna jika kamu sering mengunduh aplikasi yang sumbernya bukan dari Play Store (berbentuk file APK).

5 Aplikasi Ini Perlu Dihapus dari Android

Nah, saat itulah aplikasi antivirus memeriksa aplikasi non-Play Store selama proses instalasi. Antivirus juga memberikan peringatan jika aplikasi yang dipasang berbahaya.

4. Aplikasi Penghemat Baterai

Sama halnya dengan penghemat RAM, aplikasi penghemat baterai justru malah jadi beban untuk Android. Aplikasi penghemat baterai diklaim jadi solusi masalah yang dihadapi pengguna ponsel pintar, yakni daya yang cepat habis.

Nah, dengan memasang aplikasi ini, sesungguhnya kamu malah membuat baterai cepat habis karena prosesnya. Agar pemakaian baterai lebih hemat, kamu hanya perlu uninstal aplikasi tersebut.

Ilustrasi baterai android
5. Aplikasi Bawaan

Banyak merk smartphone yang memasang berbagai aplikasi pada perangkatnya, sebut saja aplikasi pemesanan hotel, gim, atau aplikasi Office. Padahal jika disadari, banyak aplikasi bawaan sebenarnya tidak dipakai dan justru menambah beban ponsel bahkan sulit untuk di-uninstall.

Kalau tidak bisa dihapus, kamu hanya tinggal membuka ikon info aplikasi (app drawer) yang dimaksud, lalu kamu bisa memilih untuk menghapus atau mendeaktivasi.
5 Aplikasi Ini Perlu Dihapus dari Android
5 Aplikasi Terbaik yang Jarang Dipakai oleh Pengguna Android 
Sekadar informasi, beberapa vendor smartphone tak mengizinkan penggunanya uninstal Facebook, Twitter dan media sosial lainnya. Tentu ini hal ini menjengkelkan bagi mereka yang tidak menggunakannya.

10 Aplikasi Komputer Yang Bahaya Jika Jarang Diupdate


Layaknya bumerang, program atau aplikasi yang dipasang (install) di komputer (desktop/laptop) bisa menyerang balik jika tidak diperbarui (update). Alasannya, update terkadang diberikan untuk menambal celah keamanan.

Jika celah itu tidak ditambal, maka bisa dimanfaatkan oleh peretas untuk menanam malware atau program berbahaya lainnya.

Avast, penyedia produk keamanan digital, mengungkap bahwa 52 persen program komputer jarang di-update ke versi terbaru oleh pengguna.

Hal ini menimbulkan pengguna rawan terekspos data pribadinya, karena malware mengincar program versi lama agar dapat mengeksploitasi celah keamanannya.

Avast PC Trend Report January 2017 yang dibuat berdasarkan data dari produk AVG TuneUp menyoroti 10 aplikasi yang umum digunakan untuk menyusupkan malware, dan jarang di-update ke versi terbaru oleh penggunanya.

Data yang dikumpulkan secara anonim dari 116 juta komputer desktop dan laptop Windows yang menjalankan fitur Automatic Software Updater pada AVG TuneUp.

Berikut urutan aplikasi yang paling jarang diperbarui:
    1.    Java (Runtime 6,7), Oracle Corporation
    2.    Flash Player (Active X), Adobe Systems
    3.    Foxit Reader, Foxit Software
    4.    GOM Media Player, Gretech
    5.    Nitro Pro, Nitro Software
    6.    WinZip, Corel Corporation
    7.    DivX, DivX LLC
    8.    Adobe Shockwave Player, Adobe Systems
    9.    7-ZIP, Igor Pavlov
    10.    Firefox, Mozilla

Avast, dalam keterangan tertulis, menyebut 24 juta pengguna yang disurveinya masih menjalankan versi Java Runtime 6 dan 7 yang merupakan versi usang.

Sebanyak 26 juta pengguna telah menggunakan versi terbaru, yaitu Java 8 serta 70 persen pengguna belum meng-install rilis update terbaru (saat ini update 121).

Flash (ActiveX) 99% penggunanya belum memperbarui komponen ini pada Internet Explorer dan Foxit Reader dengan 92% pengguna masih menggunakan versi lama dari aplikasi tersebut.

Sebaliknya, aplikasi yang paling diperbarui adalah Google Chrome dengan persentase 88 persen. Opera dengan 84 persen, dan Skype dengan 76 persen pengguna telah memperbaruinya

Kategori

Kategori