Showing posts with label Investasi. Show all posts
Showing posts with label Investasi. Show all posts

Belajar dari Korban Investasi Ilegal

Belajar dari Korban Investasi Ilegal

Belajar dari Korban Investasi Ilegal

Saat ini investasi yang hadir di Indonesia kian beragam, dengan jenis, produk, dan manfaat yang beragam pula.

Namun, tidak jarang investasi yang ditawarkan kepada masyarakat adalah investasi ilegal yang tidak diawasi dan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Investasi ilegal tersebut tidak memberikan imbal hasil sesuai dengan aturan regulator dan malah kerap merugikan masyarakat.

Oleh sebab itu, OJK meminta masyarakat untuk tetap jeli dan waspada terkait investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi.

Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Horas Tarihoran menjelaskan, saat ini korban investasi ilegal bukan hanya masyarakat yang cenderung berpendidikan rendah. Banyak masyarakat berpendidikan tinggi turut menjadi korban investasi bodong.

"Masyarakat masih banyak yang menjadi korban investasi ilegal. Bukan berarti yang jadi korban itu yang tidak terpelajar jadi tidak tahu, banyak yang terpelajar menjadi korban juga," kata Horas pada acara Permata Wealth Wisdom di Jakarta, Rabu (2/8/2017).

Menurut Horas, banyaknya masyarakat yang menjadi korban investasi ilegal sangat terkait dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia.

Berdasarkan survei nasional literasi dan inklusi keuangan yang dilakukan OJK pada tahun 2016, ditemukan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 29,6 persen.

Itu artinya, dari 100 orang masyarakat Indonesia, hanya 29 orang yang mengetahui produk dan layanan industri jasa keuangan.

Namun, pada saat yang bersamaan, tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia cukup baik, yakni sekitar 68 persen.

Artinya, dari 100 orang masyarakat Indonesia, ada sekitar 68 orang yang memiliki akses terhadap produk industri jasa keuangan, sebut saja tabungan, asuransi, saham, hingga reksa dana. Namun, hal ini kurang baik, lantaran ada ketidakseimbangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan.

"Ibaratnya seperti anak SD diberikan sepeda motor tanpa tahu penggunaannya, nanti kalau sudah besar dia ugal-ugalan ke mana-mana. Kami tidak mau hal seperti itu terjadi," ujar Horas.

Dari angka literasi keuangan masyarakat Indonesia yang baru mencapai 29,6 persen, artinya ada lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia yang belum melek keuangan sama sekali. Ini bisa menjadi celah bagi pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, termasuk investasi ilegal.

"Kami mendorong semua industri keuangan berpartisipasi untuk membantu tingkat literasi paling tidak mendekati angka inklusi keuangan," tutur Horas.



Anggota Arisan "Mama Gaul" Lapor Polisi

Anggota Arisan "Mama Gaul" Lapor Polisi



Zemy Prihatiningsih, warga Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, melapor ke polisi karena uang arisannya tidak kunjung cair.

Total kerugian yang dia alami mencapai Rp 163 juta. Bukan hanya Zemy, enam ibu rumah tangga lainnya juga ikut melapor dengan kasus serupa dengan kerugian bervariasi mulai dari Rp 3 juta hingga ratusan juta rupiah.

Zemy bercerita bahwa Oktober tahun lalu dia ditawari rekannya, YR untuk mengikuti arisan. Zemmy mengenal YR dari dari bisnis jual beli kue via online.

Setiap bulan, dia membayar arisan hingga Rp 1.400.000. Dia juga ditawari bonus liburan ke Bali dan perhiasan jika bisa merekrut anggota arisan.

Di juga dijanjikan setiap pekan mendapatkan keuntungan ratusan ribu rupiah jika ikut berinvestasi dalam arisan tersebut.

"Satu juta empat ratus itu ikut 3 arisan masih belum beberapa program arisan lainnya. Saya juga diminta cari member dan dapat 33 orang. Kita biasanya berkomunikasi lewat grup BBM namanya arisan ' Mama Gaul'," kata Zemy.

Awalnya semua berjalan lancar, dan pencairan uang mulai macet sejak bulan Mei 2017. Zemy dan beberapa anggota arisan berusaha menghubungi YR untuk meminta pertanggungjawaban atas uang yang telah mereka setorkan. Namun sejak tanggal 20 Juni 2017, YR sudah tidak bisa dihubungi.

Akhirnya Zemy dan keenam rekannya memberanikan diri melaporkan kasus tersebut ke Polres Banyuwangi.

"Dari orang tujuh saja totalnya hampir 600 juta (rupiah) padahal masih banyak korban lainnya tapi mereka tidak berani melapor. Ada kalau 1 miliar (rupiah) lebih uang yang sudah disetorkan. Di grup BBM Arisan Mama Gaul saja ada 40-an orang lebih. Belum grup-grup yang lain," jelas Zemy.

Dia mengaku melapor ke polisi karena penyelesaian secara kekeluargan sudah dia lakukan tapi tidak membuahkan hasil.

"Saya juga terpaksa hutang sana sini untuk mengembalikan uang orang yang sudah setor ke sana. Setiap saya tagih ke YR selalu tidak ada kejelasan hingga dia tidak bisa dihubungi lagi. Saya hanya mau uang saya kembali," jelasnya.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Sodik Efendi membenarkan laporan tersebut, dan kasus tersebut sedang ditangani Unit Tindak Pidana Tertentu.

"Kami sudah menerima laporan terkait arisan ' Mama Gaul' dan saat ini kami sedang meminta keterangan dari sejumlah korban dan juga saksi," jelasnya.


Kategori

Kategori