Tompi : Cerita Jatuh Hati kepada Kamera Film

Cerita Jatuh Hati kepada Kamera Film


Cerita Jatuh Hati kepada Kamera Film


RUPARUPA - Saat melangsungkan pernikahan dengan Arti Indira pada September 2006 silam, Tompi terkesima dengan cara kerja fotografer yang mengabadikan saat-saat berharga tersebut. Langkahnya lincah dan cekatan, jepretannya mengalir mengikuti momen.

"Pas wedding, saya lihat cara kerja fotografernya kayaknya menyenangkan," kata pria bernama asli Teuku Adifitrian itu, dalam sebuah wawancara dengan KompasTekno di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta, bulan lalu.

Rasa penasaran menimbulkan keinginan untuk membalik peran, dari di depan kamera menjadi di belakangnya. Tompi pun menghubungi sang fotografer untuk meminta saran tentang bagaimana cara mulai memotret.

Sebuah kamera dibeli sebagai modal awal. Ketika itu, tahun 2007, Tompi memulai perkenalannya dengan dunia fotografi yang berlangsung hingga kini.

Belajar sendiri


Tompi mengaku belajar memotret dari nol tanpa tahu apapun soal itu. Maklumlah, dia sebelumnya berprofesi sebagai dokter ahli bedah plastik dan penyanyi jazz yang boleh dibilang tak berhubungan dengan potret memotret.

Tapi Tompi justru merasa tertentang untuk belajar secara otodidak. Dia giat bertanya dan berkumpul dengan komunitas fotografer. Buku manual kamera pun dilahap hingga akhirnya Tompi menguasai teknik pemotretan dan menemukan genre yang disukai, yakni fashion atau portrait dan street photography.

Seperti kebanyakan orang yang mulai belajar memotret di era modern, Tompi awalnya memakai kamera digital. Tiga tahun belakangan dia merasa penasaran dengan hasil foto kawan-kawan fotografer yang memakai kamera film (analog).

"Saya lihat hasil-hasil foto mereka kok beda ya. Saya tidak merasa lebih bagus atau keren, tapi beda saja, ada rasa lain, begitu," ujar Tompi mengingat kembali keheranannya dulu.

Rasa penasaran semakin memuncak saat Tompi datang ke pameran foto oleh fotografer Annie Leibovitz di Singapura, 2014 lalu. Di sana dia terkagum-kagum dengan kekhasan warna, tone, dan kedalaman dari foto jepretan Leibovitz yang menggunakan film sebagai medium perekam gambar.
Sepulangnya ke Jakarta, Tompi membulatkan tekad untuk mulai memotret dengan film. Dia mendatangi seorang tokoh fotografi film Indonesia, Benny Asrul, untuk meminta saran.

Kamera analog pertama Tompi adalah sebuah rangefinder buatan Jerman. "Begitu beli, langsung isi rol film dan belajar," katanya menggambarkan antusiasme ketika itu.

“Nyuci” foto


Prinsip kerja kamera digital dan film sebenarnya hampir sama. Perbedaan utamanya terletak di jenis medium penangkap dan perekam gambar.


Kamera digital menangkap gambar dengan sensor, kemudian menyimpan hasilnya dalam bentuk data di kartu memori. Sebaliknya, kamera analog memakai film untuk menangkap gambar. Foto-fotonya pun terekam dalam tiap frame di lembaran film.

Berbeda dari kamera digital yang hasilnya bersifat instan dan bisa langsung dilihat, foto jepretan kamera film mesti lebih dahulu "dicuci" (develop) di kamar gelap dengan berbagai cairan kimia sebelum bisa nampak.

Proses pencucian inilah yang awalnya menghadirkan tantangan besar untuk Tompi. Pemilik bisnis pencucian film sudah banyak menutup usahanya lantaran kurang peminat di era fotografi digital dan smartphone.
Tompi pun kesulitan mencari, tapi dia tak menyerah. Melihat ada beberapa teman sesama fotografer yang mencuci sendiri filmnya, Tompi pun mendekati mereka dan minta diajari.

Dia menimba ilmu dari sejumlah tokoh fotografi film di Tanah Air. Selain Benny Asrul, Tommy Armansyah dan Haryanto Devcom ikut menjadi gurunya.

Cerita Jatuh Hati kepada Kamera Film

Ritual pagi


Proses developing film memiliki seninya sendiri. Film hitam putih butuh perlakuan berbeda dengan film warna. Bahkan suhu bahan kimia yang dipakai pun bisa menentukan seperti apa hasilnya nanti.

Di sini Tompi menemukan keasyikan tersendiri. Berbeda dengan digital, fotografi menggunakan kamera analog dengan medium film punya banyak faktor yang menentukan output.

Selain kondisi pemotretan dan pencucian, masing-masing jenis film yang digunakan memiliki “karakter” khas. Ada yang mampu menampilkan tone hitam putih dengan kuat, atau memiliki warna-warna cerah, ada juga yang bisa menyajikan skintone dengan hasil yang menarik di mata.

“Kalau film itu beda (dari digital). Kamera boleh sama, filmnya boleh sama, tapi kalau proses pencuciannya beda, hasilnya pasti beda,” tutur Tompi.

Dari awalnya mencuci film hitam putih, dia beralih mencuci film warna yang caranya lebih rumit. Tompi berusaha belajar dengan menonton video-video pencucian film di YouTube. Keterbatasan alat sempat menjadi kendala, tapi bisa diakali. Tompi sempat memakai akuarium untuk mencuci film.  
Lambat laun, Tompi pun keranjingan. Ia membentuk “ritual” tiap pagi, di mana ia selalu mengutak-atik film di kamar gelap pada pukul 7 hingga 9, sebelum memulai praktik dokter.

Selepas praktik pukul 4 sore, Tompi bergegas kembali ke darkroom. Aktivitasnya di sana bisa berlangsung hingga pukul 10 malam. “Orang rumah akhirnya ngomel juga, ke mana nih nggak pulang-pulang, ha-ha-ha,” candanya.

Sumber : kompas.com


EmoticonEmoticon